Senin, 02 Maret 2020

Material Requirement Planning (MRP)


MRP (Material Requirement Planning)

1.      Pengertian MRP
MRP adalah proses yang dinamik, dimana perencanaan yang telah dibuat perlu disesuaikan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Kemampuan untuk melakukan penyesuaian ini tergantung pada kemampuan manajemen dan sistem informasi yang ada. Menurut Baroto (2002) ada 4 prosedur sistem MRP, yaitu:
1.      Netting yaitu proses perhitungan untuk menetapkan jumlah kebutuhan bersih yang besarnya merupakan selisih antara kebutuhan kotor dengan keadaan persediaan. Data yang diperlukan:
a)      Kebutuhan kotor untuk setiap proses
b)      Persediaan yang dipunyai pada awal perencanaan
c)      Rencana penerimaan untuk setiap periode penerimaan
Catatan: NR terjadi apabila inventori lebih kecil dari safety stock
2.      Lotting adalah suatu proses untuk menentukan besarnya jumlah pesanan optimal untuk setiap ítem secara individual didasarkan pada hasil perhitungan kebutuhan bersih.
Lot Size merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menentukan ukuran kuantitas pemesanan. Adapun pendekatan yang digunakan adalah level by level. Ada 9 teknik lot sizing yang menggunakan pendekatan level by level yang dapat diterapkan pada MRP, yaitu:
a)      Lot For Lot (LFL)
Penetapan ukuran lot dilakukan atas dasar pesanan diskrit.
b)      Economic Order Quantity (EOQ)
Penentuan lot berdasarkan biaya pesan dan biaya simpan. (Rumus EOQ)
c)      Fixed Order Quantity (FOQ)
Dalam metode ini, ukuran lot ditentukan secara subjektif berdasarkan pengalaman produksi atau intusisi.
d)     Period Order Quantity (POQ)
Pendekatan menggunakan konsep jumlah pemesanan ekonomis agar dapat dipakai pada periode bersifat diskrit, teknik ini dilandasi oleh metode EOQ.
e)      Fixed Period Requirement (FPR)
Penentuan ukuran lot didasarkan pada periode waktu tertentu.
f)       Least Unit Cost (LUC)
Metode ini menggunakan sifat konektifitas ongkos satuan per unit (ongkos pesan dan ongkos simpan) terhadap ukuran lot pemesanan sebagai basis untuk menentukan besarnya ukuran lot pemesanan.
g)      Silver Meal (SM)
Prinsip model Silver Meal didasarkan atas permintaan beberapa periode mendatang yang sudah diramalkan sebelumnya.
h)      Part Period Balancing
Pendekatan menggunakan konsep ukuran lot ditetapkan bila ongkos simpannya sama atau mendekati ongkos pesannya.
i)        Algoritma Wagner Within (AWW)
Metode ini memberikan solusi optimum bagi persoalan ukuran deterministik pada suatu kurun waktu tertentu dimana kebutuhan seluruh periode terpenuhi.
3.      Offsetting yaitu untuk menentukan saat yang tepat melakukan pemesanan dalam rangka memenuhi kebutuhan bersih. Rencana pemesanan diperoleh dengan mengurangkan saat awal tersedianya lot yang diinginkan dengan besarnya lead time. Lead time adalah besarnya waktu saat barang mulai dipesan atau diproduksi sampai barang tersebut selesai dan diterima siap untuk dipakai.
4.      Explosion adalah proses penghitungan kebutuhan kotor untuk tingkat item atau komponen yang lebih bawah. Perhitungan ini didasarkan pada rencana pemesanan item item produk pada level yang lebih atas.
a)      GR (permintaan kotor)
i.      Total permintaan pada suatu periode
ii.    Item GR untuk setiap periode diperoleh dari MPS
iii.  Untuk komponen, GR diambil dari PoRel sebelumnya
b)      SR (jadwal permintaan)
i.      Disebut dengan on order, open orders, scheduled order
ii.    Bahan atau material yang sudah dipesan dan akan tiba
c)      PoH (persediaan di tangan)
i.      Persediaan pada akhir periode dan dipergunakan untuk memenuhi permintaan (GR) pada periode berikutnya.
ii.    PoH = (PoHt-1+SRt+PoRect GRt)
d)     NR (permintaan bersih)
i.      Kebutuhan bersih yang harus dipenuhi setelah memperhatikan GR dan ketersediaan (SR dan PoH)
ii.    NR = (GRt+SS) (PoHt-1+SRt)
e)      Lot
i.      Besarnya lot yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bersih.
ii.    Besarnya nilai lot dipengaruhi oleh teknik lot sizing yang digunakan.
f)       PoRec (rencana order yang akan diterima)
i.      NR yang dimodifikasi menjadi ukuran lot.
ii.    PoRec = Lott x LS
g)      PoRel
i.      Rencana order yang akan dipesan dengan memperhatikan lead time

Contoh Kasus:
Suatu perusahaan manufakturing menghasilkan 2 jenis produk, yaitu produk X dan Y. Permintan agregat dari kedua produk tersebut adalah sebagai berikut:


Proporsi untuk produk Y adalah sebesar 40%. Setiap unit produk X terdiri dari komponen A dan B masing-masing sebanyak 1 dan 2 unit, sedangkan untuk produk Y tersusun dari komponen B dan C sebanyak 1 dan 2 unit. Data lain yang diketahui seperti dalam tabel berikut:



Tentukan kebutuhan untuk komponen A, B, dan C (Jumlah dan waktunya)!
Jawab:
Proporsi untuk produk Y adalah sebesar 40%, maka Produk Y:
Mis, pada mingggu ke-1:
 Y(40%) = 40% x 500 = 200
Karena Y(40%), maka X (60%), X (60%) = 60% x 500 = 300



Untuk produk X :

Contoh perhitungan:
1.      Mencari NR
NR     = (GR+SS) – (POHt-1+ SR)
                        = (300 + 50) – (775 + 0)
                        =  -425
2.      Mencari PoRec
PoRec = n x LS
= 2 x 150
= 300

3.      Mencari POH
POH    = POHt-1+ SR+PoRec - GR
            = 775+0+0-300
            = 475

4.      Mencari PoRel berdasarkan PoRec yang dilihat dari lead time.
Untuk produk Y:

Untuk komponen A yang berasal dari produk X yang perbandingannya sebanyak 1 unit maka GR A berasal dari PoRel produk X, dapat dilihat pada tabel berikut:


Untuk komponen B terdiri dari 2 unit produk X dan 1 unit produk Y, maka GR produk B pada periode 1, yang berasal dari PoRel X dan Y menjadi:
GRB = (2 x 0)+(1 x 200)=200 unit


Untuk komponen C yang berasal dari produk Y yang perbandingannya sebanyak 2 unit maka GR C berasal dari PoRel produkY, dapat dilihat pada tabel berikut:



Maka untuk Komponen A:
Minggu ketiga dibutuhkan sebanyak 300 unit.
Minggu keempat dibutuhkan sebanyak 400 unit.
Minggu kelima dibutuhkan sebanyak 300 unit.
Minggu keenam dibutuhkan sebanyak 500 unit.
Untuk komponen B:
                                                Minggu pertama dibutuhkan sebanyak 150 unit.
Minggu kedua dibutuhkan sebanyak 900 unit.
Minggu ketiga dibutuhkan sebanyak 1200 unit.
Minggu keempat dibutuhkan sebanyak 750 unit.
Minggu kelima dibutuhkan sebanyak 900 unit.
Untuk komponen C:
                                                Minggu pertama dibutuhkan sebanyak 400 unit.
Minggu kedua dibutuhkan sebanyak 400 unit.
Minggu ketiga dibutuhkan sebanyak 600 unit.
Minggu keempat dibutuhkan sebanyak 400 unit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Material Requirement Planning (MRP)

MRP ( Material Requirement Planning ) 1.       Pengertian MRP MRP adalah proses yang dinamik, dimana perencanaan yang telah dibuat p...